Sejarah selalu ditulis dengan nada gagah — tentang bangsa yang besar, tentang pahlawan yang mengangkat senjata, serta tentang kemuliaan dan kebanggaan. Namun, di balik semua itu, ada tubuh-tubuh perempuan yang remuk.
Dilupakan buku sejarah. Bukan berarti mereka lemah, hanya saja negara ini terlalu nyaman menindas perempuan. Bahkan ketika mereka sudah berdiri dan melawan—mereka tetap dibungkam, dihancurkan, dihapus dari ingatan.
Setiap kali nama Gerwani disebut, selalu muncul dengan konotasi negatif. Mereka dilabeli bengis, liar, tak bermoral—bukan berarti itu kenyataan, tapi karena itulah narasi yang dibangun penguasa.
Padahal mereka adalah perempuan yang berpikir, yang bergerak, yang berani membela hak-haknya sebagai warga dan buruh. Tapi negara menjawab keberanian itu dengan kekerasan.
Mereka difitnah, ditelanjangi, disiksa, diperkosa, lalu dibungkam secara brutal. Setelahnya, mereka dibuang ke Kamp Plantungan, dihilangkan sejauh mungkin dari sejarah resmi.
Bukan hanya tubuh mereka yang dilukai, tapi nama mereka juga dihancurkan. Mereka dipaksa hilang—bukan karena salah, tapi karena dianggap pengganggu oleh para penguasa.
Lalu kita lupa. Seakan tak pernah terjadi.
Marsinah pun tidak lebih beruntung, ia hanyalah seorang buruh. Tapi nyalinya lebih besar dari para pejabat yang duduk tenang menikmati gaji negara. Ia bersuara, lalu ia dibunuh, dan negara seolah lupa. Mereka berlindung di balik prosedur dan alasan yang dirancang rapi. Pada akhirnya, tak pernah ada keadilan yang datang menjemputnya.
Kemudian, bagaimana dengan perempuan Tionghoa yang diperkosa saat Mei 1998?
Apakah kita masih harus membujuk bangsa ini untuk mengakui bahwa itu benar-benar terjadi? Bahwa tubuh mereka bukan dongeng, bahwa rasa sakit mereka bukan rumor belaka. Selalu saja ada upaya meragukan kesaksian korban. Selalu ada suara yang menolak mendengar kebenaran yang tidak nyaman.
Bagaimana bisa kita tidak marah? Bagaimana bisa kita membiarkan negara yang lahir dari darah, menyangkal rahim perempuan yang melahirkannya?
Negara ini lahir dari rahim perempuan. Tapi lihat apa yang kita lakukan pada mereka, kita telanjangi mereka dalam cerita—kita buang mereka dari sejarah. Kita tuduh mereka membawa aib, lalu kita bakar ingatan mereka dalam sunyi.
Hari ini pun tak banyak berubah. Perempuan masih dilecehkan, masih dicurigai, masih disalahkan.
Mereka dituntut menjaga diri, menjaga nama baik, menjaga moral. Sementara para pelaku tidur nyenyak, dipuja sebagai tokoh bangsa.
Betapa menyedihkannya bangsa yang katanya besar ini.
Hal membuat menyakitkan bukan hanya kekerasannya, tapi cara bangsa ini melupakannya. Cara kita menyingkirkan tubuh perempuan dari catatan sejarah. Cara kita menganggap penderitaan mereka tidak cukup penting untuk dicatat, apalagi diperjuangkan.
Saat ini, negara dengan bangganya ingin menulis ulang sejarah. Konon demi persatuan—demi narasi kebangsaan. Tapi saya tahu, itu hanya cara lain untuk menghapus luka, menghapus suara, menghapus nama-nama perempuan yang dianggap mengganggu kesucian bangsa.
Jika sejarah baru itu tidak menyebut mereka, maka itu bukan sejarah. Itu dusta yang dibungkus rasa nasionalisme.
Kita tidak ingin membaca sejarah yang seperti itu.
Kita ingin sejarah yang jujur, yang menyebut nama-nama yang dilukai, yang menulis tentang tubuh yang dirobek. Tentang suara yang dibungkam. Tentang keberanian yang dikubur hidup-hidup.


