Kekeliruan Study Influencer dan Kerusakan Otak yang Sedang Kita Alami

Kekeliruan Study Influencer dan Kerusakan Otak yang Sedang Kita Alami

Beranda sosial media saya saat ini, dibanjiri dengan banyak sekali metode yang mengklaim bagaimana cara belajar yang efektif. Pomodoro, FlashCard, pemanfaatan fitur AI, menggunakan Noise Sound, Recall Teknik, dan sebagainya. Konten-konten tersebut tentu dipromosikan oleh para influencer study yang tentu saja “Berpengalaman” dan pastinya menggunakan hook konten yang bisa dipastikan langsung membuat orang lain meng-klik like, share, repost. Tentu hal ini bagus, karena konten tersebut dapat mencerdaskan masyarakat dan bisa memberikan pengetahuan masyarakat bagaimana caranya kita bisa “Belajar dengan baik”


Akar masalah utama: kenapa kamu tidak bisa belajar sejak awal?

Ini merupakah satu hal yang dirasa belum terpecahkan. Kenapa mereka merekomendasikan ratusan teknik belajar? Sedangkan akar masalahnya adalah bahwa otak kita sebenarnya tidak mampu duduk diam dan fokus selama sepuluh menit penuh. Inilah yang luput dari perhatian para influencer edukasi: mereka menjual solusi tanpa pernah menyentuh akar masalahnya.

Dengan kegundahan hati, saya kemudian memutuskan untuk meriset akar masalah ini. Jari jemari saya beralih membuka laptop dan mulai menggulir mesin pencarian raksasa, untuk mempelajari hal ini.

Berjam-jam saya mencari jurnal ilmiah yang berkaitan dengan neurosains ini dan pola perilaku manusia. Dan yang mengejutkan adalah tidak ada satupun artikel yang ditulis anak bangsa. Mungkin ada, tapi sangat jarang sekali dan saya tidak menemukannya.

Artikel jurnal ilmiah yang terbaru tentang neurosains kebanyakan ditulis oleh orang luar negeri, bahkan studi mereka baru dan kontemporer, bukan sekadar studi klasik yang kadang ketinggalan zaman. Sedangakan artikel jurnal ilmiah anak bangasa? Dipenuhi dengan metode saja, bukan penyelesaian akar masalah. Persis seperti para influencer yang saya mention di atas.

Saya kemudian merenung. Apakah fenomena ini bisa dikaitkan dengan fomo belaka? Dengan asumsi bahwa memang masyarakat kita memang lebih tertarik meneliti, mengetahui dan menyebarkan metode instan dibanding dengan meneliti akar permasalahan utama.


Fokus

Mari kita kembali dengan topik utama kita, yaitu masalah fokus.

Flashcard dengan metode spaced repetition? Butuh sesi belajar berulang yang konsisten dan terkonsentrasi. Teknik Pomodoro? Tidak berguna kalau 25 menit “fokus” itu diisi dengan setengah-setengah perhatian dan sesekali cek HP. Menggunakan AI untuk merangkum materi? Kita masih harus membaca, memahami, dan mengolah ringkasan itu dengan otak yang bisa berpikir mendalam.

Semua teknik belajar ini mengasumsikan satu hal yang sudah dianggap ada: kemampuan untuk duduk dan benar-benar fokus. Jika kemampuan dasarnya sudah rusak, seluruh bangunan di atasnya akan runtuh.

Artinya jika kita tidak fokus. Maka semuanya akan sia sia. Lantas pertanyaan selanjutnya adalah “Kenapa kita tidak fokus?” Scroll, lanjut, scroll, lanjut. Begitu terus setiap hari.

Dan tanpa kita sadari, kebiasaan mengonsumsi video pendek dan informasi kilat di media sosial secara perlahan telah mengikis kemampuan otak kita untuk bertahan dalam satu hal dalam waktu yang lama. Kita sudah terlalu terbiasa dengan dopamin instan, yaitu kepuasan yang datang dalam hitungan detik, bukan menit.

Dr. Gloria Mark, peneliti dari University of California Irvine, menemukan sesuatu yang cukup mengkhawatirkan. Pada tahun 2004, rata-rata seseorang bisa fokus pada satu layar selama dua setengah menit. Pada 2012, turun menjadi 75 detik. Dan pada penelitian terbarunya, angka itu menyentuh 47 detik saja. Kurang dari semenit. Itu bukan kebetulan. Itu adalah hasil dari kebiasaan yang kita bangun sendiri, setiap hari, setiap kali kita membuka TikTok, Reels, atau YouTube Shorts.

Otak kita pada dasarnya adalah mesin yang bisa dilatih. Dan selama bertahun-tahun, tanpa sadar, kita sudah melatihnya untuk tidak betah diam.

Maka ketika kita duduk dan mencoba belajar, otak kita protes. Bukan karena kita bodoh. Bukan karena materinya terlalu sulit. Tapi karena otak kita sudah lupa caranya fokus.


Lantas, apa solusinya?

Bukan Pomodoro. Bukan Flashcard. Bukan AI.

Sesederhana sekali. Membaca adalah salah satu aktivitas yang secara langsung melatih otak untuk kembali fokus dalam waktu panjang. Tidak ada notifikasi. Tidak ada video autoplay. Hanya kita dan barisan kalimat yang harus diolah sendiri di dalam kepala. Ini bukan tentang menjadi orang pintar. Ini tentang melatih kembali otot fokus yang sudah lama tidak kamu pakai.

Mulai dari yang kecil. Baca sepuluh menit tanpa menyentuh HP. Besoknya tambah lima menit. Tidak perlu langsung dua jam. Yang penting konsisten dan pelan-pelan.

Singkirkan dulu gangguannya. Notifikasi, HP yang selalu dalam jangkauan tangan, tab browser yang terlalu banyak terbuka. Semua itu bukan teman belajar. Semua itu adalah musuh dari fokus yang sedang kamu coba bangun kembali.

Karena pada dasarnya kita tidak butuh teknik belajar yang lebih Up to date. Tapi sebaliknya, yang kita butuhkan adalah kemampuan fokus kita sudah terdegradasi, dan kita perlu membangunnya kembali dari nol.

Selama akar masalahnya belum diselesaikan, semua metode belajar itu hanya akan jadi modal konten bagus saja tanpa adanya solusi dari akar masalah kita. Karena sebetulnya fokus bukan soal teknik. Fokus adalah fondasi. Dan fondasi itu harus dibangun dengan sabar bukan scroll.


Penulis: Shakila Jingga Zahra

Redaktur: Muhammad Rizki Aulia Rahman

Redaksi Antonim
Redaksi Antonim