Kelompok Penerbang Roket merupakan salah satu band rock Indonesia yang konsisten menjadikan musik sebagai medium refleksi sosial. Sejak awal kemunculannya, trio ini dikenal tidak hanya karena karakter musiknya yang bertenaga, tetapi juga karena keberaniannya merespons realitas yang mereka hadapi sebagai warga. Keresahan, kegelisahan, dan kemarahan kerap menjadi bahan bakar utama dalam proses kreatif mereka.
Dalam sebuah wawancara, vokalis Kelompok Penerbang Roket menyebut bahwa kondisi sosial yang hancur justru mendorong mereka untuk menciptakan lagu-lagu yang lebih galak. Pernyataan ini penting untuk dibaca sebagai konteks lahirnya karya mereka, termasuk “TIGOR” (Tikus Gorong-Gorong). Lagu ini tidak hadir sebagai hiburan semata, melainkan sebagai bentuk sikap dan respon atas situasi yang dirasakan semakin menjauh dari harapan publik.
Dibuka dengan “Suasana penuh keyakinan dan harapan”. Liriknya menggambarkan sosok yang datang membawa mimpi dan kata-kata indah, membuat banyak orang percaya. Gambaran ini terasa dekat dengan pengalaman masyarakat Indonesia yang berulang kali dihadapkan pada figur pemimpin dengan narasi besar tentang perubahan, keadilan, dan kebajikan. Janji selalu menjadi alat utama untuk membangun kepercayaan, sementara harapan publik dikelola hanya sebagai modal politik.
Namun, lagu ini tidak berhenti pada romantisme janji. Kelompok Penerbang Roket dengan cepat membawa pendengar pada lapisan realitas yang lebih pahit. “Rangkaian mimpi dan kata” digambarkan sebagai sesuatu yang pelan pelan “Termakan oleh kita”. Lirik ini menandai bagaimana publik sering kali tidak benar-benar diyakinkan, melainkan dibiasakan untuk menerima janji sebagai sesuatu yang lumrah dalam kehidupan bernegara.
Refrain lagu ini menegaskan kritik utama. “Nyatanya seperti biasa” atau “Mereka yang haus kuasa”. Kalimat-kalimat ini bukan sekadar pengulangan, melainkan simpulan atas pengalaman kolektif yang terus berulang. Pemimpin datang silih berganti, slogan berubah, tetapi orientasi kekuasaan tetap sama. Janji digunakan sebagai jalan menuju kekuasaan, bukan sebagai komitmen yang harus ditunaikan.
“TIGOR” juga menyoroti bagaimana kekuasaan kerap dibungkus dengan bahasa moral. Kata-kata yang terdengar seperti khotbah tentang keadilan dan kebajikan digunakan untuk membangun citra kesalehan dan kepedulian. Semua diberi janji, seolah tidak ada yang ditinggalkan. Namun di balik bahasa yang rapi itu, lagu ini menyisipkan metafora tajam tentang “tikus berdasi”. Sosok yang terlihat santun dan terhormat, tetapi bekerja secara licik dan merusak.
Ironi dalam lagu ini terasa sangat relevan dengan kondisi kepemimpinan di Indonesia hari ini. Janji politik sering terdengar luhur, tetapi praktiknya tidak jauh berbeda dari masa lalu. Kekuasaan dijaga dengan berbagai cara, sementara kepentingan publik kerap menjadi wacana yang mudah ditunda. Dalam konteks ini, “TIGOR” dapat dibaca sebagai kritik atas pola, bukan atas individu tertentu.

Kelompok Penerbang Roket tidak menyebut nama, jabatan, atau peristiwa spesifik. Justru di situlah kekuatan lagu ini. Ia berbicara tentang sistem dan kebiasaan yang terus direproduksi. Musik digunakan sebagai medium untuk mencatat, bukan untuk menghakimi. Sebagai band, mereka memilih untuk tidak berteriak secara eksplisit, melainkan menyampaikan kritik melalui narasi dan ironi.
Menurut saya, “TIGOR” merupakan bentuk aspirasi yang disampaikan Kelompok Penerbang Roket melalui karya. Lagu ini menjadi respons atas kondisi sosial politik yang mereka rasakan sebagai warga. Ketika ruang kritik formal sering terasa sempit atau dibingkai secara seremonial, musik menawarkan ruang alternatif untuk menyampaikan kegelisahan secara jujur.
Dalam konteks yang lebih luas, “TIGOR” menunjukkan bahwa karya budaya masih memiliki peran penting sebagai cermin sosial. Ia mengingatkan bahwa janji kekuasaan memiliki pola yang berulang, dan bahwa publik perlu lebih waspada terhadap kata-kata yang terlalu indah tanpa pijakan nyata. Kelompok Penerbang Roket melalui lagu ini tidak menawarkan solusi instan, tetapi menghadirkan kesadaran.
Pada akhirnya, “TIGOR” berdiri sebagai catatan kritis atas realitas politik yang terus berulang. Ia lahir dari kondisi yang dianggap hancur, lalu diolah menjadi karya yang berbicara dengan jujur. Ketika janji politik kehilangan makna, musik kembali menemukan fungsinya sebagai suara yang merekam kegelisahan zaman.
Editor: Rayfahd Haykal
Ilustrasi: Aura Fayza


