Menanam Harapan di Lahan Tandus
Prolog
Terlahir dengan latar belakang keluarga petani membuat saya akrab dengan bau tanah basah, obat kompres padi, dan obrolan tentang cuaca yang bisa menentukan nasib panen. Ketika musim hujan datang dan banjir melanda, sawah-sawah berubah menjadi danau lumpur, dan petani tak bisa menanam apalagi memanen. Sebaliknya, ketika musim panen tiba dan hasil bumi melimpah di hampir setiap desa, harga jual justru anjlok karena suplai melebihi permintaan. Petani rugi di tengah keberlimpahan yang seharusnya jadi berkah. Dari situ pula muncul sebuah pertanyaan sederhana.
Bisakah petani benar-benar sejahtera, bahkan kaya, dari hasil bumi yang mereka tanam sendiri?
Petani Tak Dikasihi Ibu Pertiwi
Petani yang katanya adalah tulang punggung ketahanan pangan nasional, ternyata kerap diperlakukan seolah sekadar pelengkap dalam narasi besar pembangunan. Dari alat pengeras suara; pelantang kebohongan pemimpin, sektor pertanian memang sering disebut penting. Kenyataannya petani justru berjalan sendiri di jalan terjal yang semestinya mereka tempuh bersama negara.
Banyak petani masih bertumpu pada pengetahuan tradisional yang diwariskan turun-temurun, tanpa pendampingan yang memadai dari tenaga ahli. Pelatihan modern pertanian berbasis teknologi atau iklim nyaris tak menyentuh desa-desa kecil, Kebijakan kerap datang dari atas, tanpa memahami kondisi di bawah.
Beban semakin berat. Pupuk bersubsidi langka, benih unggul mahal, dan irigasi tidak merata. Petani terpaksa mengandalkan cuaca dan keberuntungan, bukan teknologi atau sistem yang solid. Padahal mereka dituntut untuk menghasilkan komoditas berkualitas tinggi demi bersaing di pasar, bahkan dengan produk impor yang masuk dengan harga lebih murah.
Saat musim panen dengan hasil melimpah, petani justru menjerit karena harga jual jatuh bebas. Tidak ada sistem tata niaga atau gudang penyimpanan yang kuat untuk mengatur distribusi dan stabilisasi harga. Tengkulak mengambil peran dominan, membeli dengan harga murah lalu menjual kembali dengan margin tinggi. Petani hanya bisa pasrah karena tidak punya akses ke pasar yang lebih luas dan adil.
Dalam ekosistem yang timpang ini, petani seperti terus-menerus dikecewakan oleh Ibu Pertiwi. Mereka memberi makan negeri, namun tak cukup diberi ruang untuk hidup layak. Negara seolah lupa bahwa kemajuan industri dan teknologi tidak bisa berdiri kokoh tanpa pondasi pangan yang kuat—dan itu semua berasal dari tangan-tangan petani.
Tanah Subur, Negeri Tak Bersyukur
Dilabeli sebagai negara agraris dengan tanah yang subur; hamparan sawah, kebun, dan ladang yang membentang luas. Jemawa karena kelimpahan sumber daya alam; sinar matahari sepanjang tahun, air melimpah, serta ragam tanaman pangan yang bisa tumbuh subur. Namun sayangnya, kesuburan itu tidak diimbangi dengan rasa syukur yang diwujudkan dalam kebijakan yang berpihak pada pertanian lokal.
Alih-alih memperkuat produksi dalam negeri, pemerintah justru terlalu sering membuka keran impor komoditas pertanian—dari beras, gula, hingga sayur dan buah yang sejatinya bisa kita produksi sendiri. Di saat petani lokal berjuang menjual hasil panennya yang melimpah, negara malah membanjiri pasar dengan produk luar negeri yang harganya lebih murah. Ini bukan hanya melemahkan daya saing petani lokal, tapi juga menandai gagalnya kita memanfaatkan potensi sendiri.
Ibarat rumah yang punya dapur lengkap tapi tetap membeli makanan dari luar, Indonesia seolah lebih percaya pada hasil tanah negara tetangga ketimbang kekayaan alamnya sendiri. Tanah kita subur, tapi kedaulatan pangan kita rapuh karena terlalu bergantung pada impor. Akibatnya, petani kehilangan semangat, lahan tidur semakin luas, dan generasi muda semakin menjauh dari dunia pertanian.
Sudah saatnya kita berhenti menjadi bangsa yang hanya kagum pada potensi, tetapi gagal mengelolanya.
Tanah yang subur adalah anugerah, tapi tanpa pengelolaan dan dukungan kebijakan yang bijak, ia hanya akan menjadi janji yang tak pernah benar-benar ditepati.
Mimpi yang Tak Boleh Layu
Sebagai seseorang yang lahir dari keluarga petani, saya tidak hanya melihat pertanian sebagai sektor ekonomi, tapi juga sebagai warisan hidup.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana tanah menjadi tumpuan harapan, dan bagaimana keringat petani menyuburkan negeri ini meski mereka sendiri hidup dalam kekeringan kesejahteraan. Hal ini membuat saya merenung: jika pertanian terus dibiarkan berjalan tanpa arah, akankah generasi muda masih mau menekuni ladang? Akankah anak petani masih percaya bahwa bertani adalah pekerjaan yang bermartabat?
Hari ini, banyak pemuda desa memilih pergi ke kota, meninggalkan cangkul dan sawah, demi harapan hidup yang lebih baik. Wajar saja, siapa yang ingin terus bekerja keras tanpa kepastian penghasilan yang layak? Tapi jika tren ini terus berlanjut, siapa yang akan menanam padi, menjaga ladang, dan memanen masa depan bangsa?
Saya percaya, masa depan pertanian tidak boleh dibiarkan layu. Negara harus hadir, bukan sekadar memberi bantuan sesaat, tapi membangun sistem yang adil dan berkelanjutan. Petani harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, diberi akses teknologi, pasar, dan perlindungan harga. Pertanian harus dijadikan profesi yang membanggakan, bukan pilihan terakhir karena keterpaksaan.
Sebab selama perut manusia masih butuh diisi, selama nasi masih menjadi makanan pokok bangsa, selama itu pula petani adalah pahlawan sejati.
Maka jawaban atas pertanyaan “bisakah petani kaya dari hasil bumi?” bergantung pada keberanian kita sebagai bangsa untuk mengubah sistem yang selama ini membuat mereka berjalan sendirian.


