Di negeri yang katanya sedang menikmati “bonus demografi,” justru anak mudanya sering merasa jadi bonus masalah kebijakan. Dari ruang kelas sampai bursa kerja, generasi muda seolah digiring dalam parade janji yang manis di telinga, tapi getir di kenyataan. Pertanyaan paling sederhana dan paling menyakitkan adalah masihkah negara ini peduli pada masa depan generasinya, atau peduli hanya pada headline media dan narasi politik?
Pendidikan: Laboratorium Kebijakan yang Membosankan
Mari mulai dari sekolah. Ingat program MBG? Katanya mau meningkatkan kualitas. Realitanya, justru terasa seperti eksperimen yang dipaksakan. Anak-anak jadi semacam “kelinci percobaan,” guru dipaksa adaptasi dengan sistem yang bahkan indikator keberhasilannya nggak jelas, sementara sekolah hanya bisa pasrah demi kepatuhan.
Kalau pendidikan katanya untuk mencetak generasi kritis dan mandiri, kenapa hasilnya justru bikin banyak yang “keracunan”? Apakah anak sekolah sengaja “dibunuh” pelan-pelan dengan program ini?
Alih-alih sehat secara intelektual, mereka justru tumbang oleh beban yang nggak realistis. Seakan-akan masa depan bisa dibentuk lewat template kebijakan instan—copy-paste dari dokumen, tanpa pernah benar-benar dipikirkan jangka panjangnya.
Omon-omon 19 Juta Lapangan Pekerjaan
Sekarang mari geser ke janji besar: 19 juta lapangan pekerjaan. Angkanya terdengar megah, seperti tagline film blockbuster. Tapi hampir genap setahun berjalan, yang tampak justru prestasi negara dalam “memelihara jutaan pengangguran.”
Anak muda hari ini akrab dengan rutinitas absurd: scrolling lowongan kerja palsu di Instagram, ikut job fair yang lebih mirip festival musik karena ramenya, atau duduk di kafe mengetik CV ke-25 yang tetap berakhir dengan email template ‘Terima kasih sudah melamar.’
Alih-alih melahirkan ruang kerja baru, janji itu berubah jadi semacam punchline politik. Lucu kalau didengar di panggung kampanye, tapi pahit ketika dihadapi di meja makan.
Era Generasi yang Burnout Bahkan Sebelum Kerja
Realitas ini bikin banyak anak muda jadi generasi paling stresful. Overthinking tiap buka email, insecure tiap lihat teman upload pencapaian di LinkedIn, sampai burnout meski belum sempat punya karier tetap.
Ironisnya, kita diminta untuk selalu kreatif, inovatif, dan optimis. Faktanya, kreativitas seringkali berarti “kreatif cari utang,” inovasi berarti “inovasi menahan lapar,” dan optimisme jadi semacam mantra kosong biar tetap waras di tengah absurditas.
Kalau begini terus, bukannya jadi “bonus demografi,” anak muda justru jadi “generasi demografis stres.”
Pasar Kerja yang Semena-mena
Karena cadangan pengangguran selalu banyak, banyak perusahaan jadi seenaknya memperlakukan pekerja. Gaji ditentukan sepihak, fasilitas minim, kerja lembur dianggap loyalitas, bukan eksploitasi.
Mereka tahu, di luar sana ada ribuan, bahkan jutaan orang siap menggantikan posisi dalam hitungan jam. Akhirnya, nilai kerja manusia direduksi jadi angka statistik, bukan martabat. Di titik ini, janji lapangan kerja bukan hanya gagal ditepati, tapi juga menciptakan pasar tenaga kerja yang makin timpang.
Serius Urus Citra, Abai pada Isi
Setiap kali kritik dilontarkan, jawaban yang keluar dari pejabat hampir selalu sama: “Kita sedang berproses.” Tapi pertanyaannya, proses menuju apa dan ke mana? Rakyat terus diminta bersabar, sementara para pejabat tetap nyaman dengan gaji, fasilitas, dan agenda seremoni.
Lebih ironis lagi, publik sering diminta merasa bangga pada hal-hal yang sifatnya abstrak: angka pertumbuhan ekonomi, investasi yang “dikabarkan” masuk, atau program pendidikan yang “diklaim” inovatif. Namun realitas di lapangan berbeda jauh—generasi muda justru gamang mencari pegangan. Seolah kamera lebih berharga daripada ruang kelas, dan pidato lebih diutamakan daripada rencana nyata.
Masa Depan Jadi Bom Waktu yang Menunggu
Kalau arah ini terus dipertahankan, masa depan generasi muda bisa berubah jadi bom waktu. Kita nggak bisa hidup dari janji-janji yang nggak ditepati, apalagi dari program pendidikan yang lebih mirip eksperimen gagal.
Anak muda butuh ruang berkembang, bukan sekadar latar belakang foto peresmian. Butuh pekerjaan nyata, bukan jargon politik. Butuh arah, bukan sekadar ilusi.
Jadi, balik lagi ke pertanyaan awal:
Masihkah negara ini peduli pada masa depan generasi?
Kalau iya, buktinya bukan dengan angka di pidato, tapi kerja nyata di lapangan. Kalau nggak, ya jangan kaget kalau generasi ini akhirnya berhenti percaya dan memilih jalannya sendiri.


