Di awal dekade 1990-an, dunia musik sedang bergulat dengan dua arus besar yang bertolak belakang. Dari Seattle, Amerika Serikat, Nirvana datang dengan aliran Grunge nya yang kelam dan penuh kegelisahan. Sementara itu, di Manchester, Inggris, lahir Oasis dengan Britpop nya yang cerah namun penuh percaya diri.
Kontras tersebut juga tercermin lewat dua lagu mereka berjudul “I Hate Myself and Want to Die” milik Nirvana yang ditulis pada tahun 1993, dan “Live Forever” ciptaan Oasis yang dirilis setahun setelahnya. Secara tidak langsung, kedua lagu tersebut menjadi sebuah pertarungan ideologis. Bukan lewat propaganda, tetapi melalui jalur musik.
Suara dari Seattle
Lewat album ketiganya yang bertajuk In Utero, Nirvana merilis “I Hate Myself and Want to Die” dengan nada yang terdengar seperti pernyataan putus asa. Akan tetapi, lagu tersebut tak sempat dirilis akibat tekanan dari label rekaman.
Di sisi lain, di balik judul yang ekstrem itu, terdapat sindiran terhadap label dan media yang membranding dirinya sebagai ikon penderitaan. Kurt sendiri menyebut judul lagu tersebut sebagai “a joke, nothing more.” Namun, ironi itu justru menggambarkan apa yang sedang ia alami, sebuah depresi yang disamarkan dengan humor.
Suara gitar yang berat dan penuh distorsi menegaskan suasana nihilisme khas Nirvana. Musiknya terdengar mentah, tidak teratur, dan seolah sengaja dibiarkan berantakan. Kurt menjadi wajah dari generasi pesimistis, mereka yang berani mengakui luka, tetapi tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya.

Respons dari Manchester
Setahun kemudian, di sisi lain Samudra Atlantik, Noel menulis “Live Forever” pada trek ketiga di dalam album debut Oasis yang berjudul Definitely Maybe. Menariknya, ia mengatakan bahwa lagu tersebut sebuah respons terhadap lagu “I Hate Myself and Want to Die.”
“I remember Nirvana had a tune called ‘I Hate Myself and I Want to Die,’ and I was like, well, I’m not fucking having that. I can’t have people like [Kurt Cobain] coming over here,” ujar Noel dalam wawancaranya di DVD Stop the Clocks pada tahun 2006.
Dalam tersebut, terdapat bait lirik yang berbunyi “Maybe I just wanna fly, wanna live, I don’t die.” Nada-nadanya terdengar seperti ajakan untuk bangkit dari keputusasaan yang melanda generasi muda di Eropa, akibat arus musik dunia yang saat itu didominasi oleh Nirvana dan grunge.
Musiknya dikemas dengan perasaan, optimis, fun, dan penuh energi, berbanding terbalik dengan dunia yang dibangun oleh Kurt.

Dua Dunia, Satu Generasi
Secara historis, grunge dan britpop tumbuh dari kondisi sosial yang berbeda. Grunge lahir dari kekosongan moral Amerika pada akhir 1980-an, saat anak muda kehilangan arah di tengah industrialisasi dan tekanan sosial. Britpop tumbuh dari kebangkitan nasionalisme budaya Inggris (British Invasion), ketika anak-anak kelas pekerja mulai percaya diri menentang hegemoni budaya Amerika yang pada saat itu menguasai arus musik mainstream.

Namun secara emosional, keduanya berasal dari akar yang sama, yaitu kegelisahan generasi muda terhadap dunia yang tidak adil. Hanya saja Nirvana menatap jurang, sementara Oasis menatap langit. Kurt memilih kejujuran brutal yang berbalut pesimisme, sedangkan Noel memilih keyakinan keras kepala dibalut rasa optimisme.
Epilog: Antara Jurang dan Langit
Pada akhirnya, Kurt Cobain dan Noel Gallagher sama-sama menulis lagu tentang kehidupan, tetapi dari sudut pandang yang berbeda. Yang satu berbisik dari tepi jurang, yang lain berteriak dari puncak bukit.
Keduanya tetap penting, sebab tanpa memahami pesimisme, kita tidak akan tahu betapa berharganya optimisme. Tanpa keberanian untuk hidup, kita tak akan pernah mengerti mengapa kematian begitu menakutkan.
Sejarah musik tidak hanya mencatat dua lagu dari dua band besar, tetapi juga dua filosofi yang terus berdialog hingga hari ini. Karena di antara “aku benci diriku,” selalu ada perasaan bahwa “aku ingin hidup selamanya.”
Penulis: Daffa Yazid Fadhlan
Editor: Muhammad Rayfahd Haykal


