Di sebuah warung kopi pinggir jalan dengan aspal baru hasil kampanye pilkada kemarin. Pak Bowo sedang duduk sambil menyeruput kopinya yang mulai dingin. Hari itu, wajahnya lebih kusut dari biasanya. Bukannya karena utang warung yang sudah kayak nomor antrean bank, tapi karena dia baru saja dengar kabar kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) jadi 12%.
“Bayangkan, Pak RT,” keluh Pak Bowo ke tetangganya, “Sekarang makan bakso aja harus mikirin pajaknya. Nggak lama lagi napas kita juga kena PPN!”
Pak RT, yang biasanya lebih sibuk ngatur ronda daripada urusan pajak, mengangguk-angguk. “Benar juga, Pak Bowo. Kayaknya nanti tiap istri ngomel ke suami, ngomelnya kena pajak juga. Hitungannya pertambahan nilai moral, kali.”
Semua tertawa. Tapi ketawa mereka getir, seperti orang yang baru tahu kalau harga cabai naik lagi.
“Coba dipikir, Pak RT,” lanjut Pak Bowo, “PPN ini katanya buat bantu pembangunan. Tapi, kok ya pembangunan cuma keliatan di ibu kota. Kita di kampung ini masih pakai jembatan bambu, kalau lewat harus doa dulu biar nggak ambruk.”
Pak RT menghela napas panjang, “Biar adil, mungkin kita juga harus bikin aturan. Kalau ada pejabat yang lewat jembatan itu, mereka harus bayar pajak dobel. Namanya PPJ, Pajak Pertambahan Jembatan.”
Pak Bowo mengangguk setuju. “Atau mungkin kita bikin promo. Kalau bayar PPN 12%, dapat gratis hadiah, kita janjiin pembangunan yang nggak bakal datang.”
Sementara itu, di meja sebelah, Ibu Yani, pedagang gorengan langganan warung, ikut menyela. “Saya aja bingung, Pak. Kalau gorengan saya kena PPN, berarti nanti ada yang namanya bakwan premium, ya? Mungkin harganya jadi Rp5.000 per biji, tapi rasanya tetep pakai minyak jelantah.”
Pak Bowo tertawa lagi, tapi kali ini lebih pahit. “Jadi rakyat kecil kayak kita tuh kayak main lotre, Bu Yani. Setiap bayar pajak, kita cuma bisa berharap. Entah dapat jembatan, jalan mulus, atau cuma dapat janji yang diulang-ulang tiap tahun.”
Entah kopi atau realita yang menjadikan obrolannya pahit, Pak Bowo menyambung “Wong pemerintah mimpinya besar, tapi kok yang jadi kasur buat mimpi itu rakyat kecil kayak kita.”
Pak RT menambahkan, “Kita ini kayak orang pacaran sama pemerintah. Sudah bayar mahal, tapi yang kita dapat cuma harapan palsu.”
Akhirnya, mereka bertiga diam, memandang kopi dan gorengan masing-masing. Humor memang jadi pelarian yang menyenangkan. Tapi, di balik tawa mereka, tersimpan kesedihan yang tak bisa lagi disembunyikan.
“Yah, mau gimana lagi,” kata Pak Bowo akhirnya. “PPN 12% ini bukti kalau pemerintah tahu kita kuat. Saking kuatnya, mereka yakin kita bisa bayar apa saja, bahkan kalau isi dompet cuma tinggal doa.”
Ibu Yani menimpali, “Doa aja, Pak. Untung nggak kena pajak juga.”


