Ada hal-hal yang belakangan terasa berbeda, meski sulit dijelaskan dengan satu kata. Cuaca berubah cepat, tubuh lebih mudah lelah, hujan datang tanpa pola yang jelas. Kita tetap berangkat kerja, tetap menjalani hari, sambil pelan-pelan menyesuaikan diri dengan kondisi yang tidak lagi stabil. Lama-lama, semua itu terasa biasa, padahal sebenarnya tidak.
Bagi banyak orang, terutama anak muda di kota, krisis lingkungan tidak hadir sebagai wacana besar. Ia muncul lewat pengalaman yang terus berulang dan mengganggu. Jalanan yang makin panas. Udara yang membuat napas terasa berat. Genangan yang selalu muncul di tempat yang sama. Kita mungkin tidak selalu menyebutnya krisis iklim, tapi tubuh sudah lebih dulu meresponsnya.
Yang sering luput dibicarakan adalah bagaimana situasi ini terus berulang tanpa perubahan berarti. Setiap kali terjadi bencana, selalu muncul konferensi pers, peninjauan lapangan, dan janji-janji perbaikan. Tapi jarang terasa ada upaya serius untuk mencegah semuanya sejak awal. Seolah kerusakan memang harus terjadi dulu baru dianggap penting.
Hal-Hal yang Terus Dianggap Biasa
Tidak ada satu peristiwa tunggal yang bisa ditunjuk sebagai pemicu. Yang ada adalah rangkaian kejadian kecil yang terus berulang. Hujan lebat yang selalu berujung banjir. Panas ekstrem yang dianggap bagian dari pergantian musim. Kualitas udara yang menurun, tapi akhirnya itu semua cuma jadi topik selingan di media sosial.
Di saat yang sama, warga terus diminta melakukan perubahan. Mulai dari mengurangi sampah, menghemat energi, lebih peduli lingkungan. Ajakan ini masuk akal, bahkan perlu. Namun, jadi terasa timpang ketika kebijakan di tingkat atas berjalan lambat, tata kota tetap bermasalah, dan pengawasan lingkungan yang longgar.
Ada jarak yang jelas antara tanggung jawab yang dibebankan pada individu dan keberanian negara untuk bertindak lebih jauh. Dan anak muda berada di tengah-tengahnya. Mereka diminta beradaptasi, sambil menyaksikan keputusan-keputusan besar diambil tanpa ada banyak perubahan.
Bukan Sekadar Perubahan Cuaca
Banyak kejadian yang dengan mudah diberi label bencana alam oleh penguasa. Padahal, saat ini kita semakin sulit memisahkan antara bencana yang terjadi karena faktor alam atau malah karena hasil keputusan manusia. Pembukaan lahan, pengelolaan lingkungan yang buruk, serta pengawasan yang lemah ikut membentuk skala kerusakan-kerusakan ini.
Perubahan iklim memang nyata, tetapi dampaknya diperbesar oleh sistem yang tidak siap. Masalahnya, pencegahan jarang dianggap mendesak. Tidak ada sorotan besar ketika sesuatu belum terjadi. Padahal justru di situlah risiko bisa ditekan.
Negara lebih sering hadir setelah kejadian. Saat kerusakan sudah terlihat, saat dampak sudah dirasakan. Setelah itu, ritme lama kembali berjalan. Menunggu kejadian berikutnya, dengan pola respons yang kurang lebih sama.
Bagi generasi muda, situasi ini membentuk perasaan tidak pasti. Mereka sadar persoalan ini lebih besar dari pilihan personal, tetapi solusi yang ditawarkan sering berhenti di level individu. Seolah sistem tidak perlu banyak berubah.
Hidup Bersama Risiko
Pendekatan reaktif membuat banyak hal pelan-pelan dinormalisasi. Banjir jadi rutinitas. Panas ekstrem dianggap konsekuensi tinggal di kota. Udara kotor diterima sebagai bagian dari keseharian.
Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tapi semakin terasa. Kesehatan terganggu, rasa aman berkurang, kecemasan meningkat. Anak muda tumbuh dengan kesadaran bahwa masa depan mereka penuh ketidakpastian, sementara kebijakan sering datang terlambat.
Di sisi lain, tetap ada upaya untuk bertahan. Mengelola sampah, mengurangi konsumsi, menjaga lingkungan sekitar. Langkah-langkah kecil ini penting, tapi tidak bisa berdiri sendiri. Tanpa perubahan di level kebijakan, ia terasa seperti menambal kebocoran yang terus melebar.
Ruang untuk Membicarakan yang Selama Ini Dipendam
Di tengah situasi seperti itu, kebutuhan akan ruang diskusi yang jujur semakin terasa. Ruang yang tidak menuntut optimisme berlebihan, tapi juga tidak menutup kritik.
Festival Rumah Kaca menjadi salah satu ruang tersebut. Diselenggarakan pada 13 Desember 2025 di M Bloc Live House, Jakarta, festival ini membuka percakapan tentang isu lingkungan dan krisis iklim dari pengalaman sehari-hari anak muda.
Melalui diskusi, seni, dan ruang aspirasi, Festival Rumah Kaca mencoba menghubungkan pengalaman personal dengan persoalan struktural. Termasuk soal bagaimana negara seharusnya hadir bukan hanya saat krisis terjadi, tetapi jauh sebelum itu.
Beberapa pengunjung Festival Rumah Kaca menyampaikan pandangan yang serupa. Ziza menekankan pentingnya langkah pencegahan dari pemerintah. “Jangan sampai tunggu terjadi dulu baru ada tindakan,” katanya. Menurutnya, isu lingkungan seharusnya menjadi perhatian utama karena semua orang hidup di dalamnya.
Yanda melihat banyak kejadian hari ini tidak bisa dilepaskan dari kelalaian manusia. “Sekarang banyak bencana yang terjadi, dan itu kan memang bukan bencana alam,” ujarnya. Ia menilai peran pemerintah masih kurang dalam mengatasi masalah sebelum berubah menjadi bencana.
Gaby menambahkan bahwa banyak kerusakan bersifat ekologis dan dipicu oleh kepentingan tertentu. “Itu bencana ekologis, bukan 100 persen dari alam,” katanya. Ia menyoroti lambatnya respons dan minimnya langkah pencegahan dari pihak berwenang.
Di sisi lain, Yanda juga mengingatkan bahwa ada hal-hal yang masih bisa dikendalikan secara personal. “Kita kontrol dari diri kita sendiri dulu,” ujarnya, mulai dari mengelola sampah hingga menghemat listrik. Namun ia menegaskan bahwa upaya individu tidak bisa menggantikan tanggung jawab negara.
Pernyataan-pernyataan ini memperlihatkan satu benang merah. Ada kesadaran bahwa perubahan tidak bisa hanya dibebankan pada warga. Ada harapan agar pemerintah lebih sigap membaca tanda-tanda, lebih berani bertindak sebelum dampak membesar, dan lebih serius menjadikan pencegahan sebagai prioritas.
Percakapan di Festival Rumah Kaca menunjukkan bahwa anak muda tidak sekadar mengeluh. Mereka mengamati, mengingat, dan menyusun harapan dengan hati-hati. Mereka tidak menuntut hal yang muluk-muluk. Bahwa banyak hal sebenarnya bisa dicegah, jika kita berhenti menunggu semuanya terjadi terlebih dulu.
Editor: Muhammad Rizki A.R
Ilustrasi: Yudistira Alik


