Generasi Luka: Ketika Bullying dan Kurangnya Kasih Sayang di Rumah Jadi Ledakan Sosial

Kita hidup di masa ketika amarah anak-anak tidak lagi keluar lewat tangis, melainkan lewat tindakan. Ketika ejekan di sekolah dan kesepian di rumah bisa berubah menjadi letupan yang tak terduga. Di balik seragam putih abu-abu dan wajah yang tampak biasa, tersembunyi luka yang jarang kita perhatikan.

Luka dari rasa diabaikan, ditertawakan, dan tidak dianggap. Mereka tumbuh di lingkungan yang sibuk menuntut, tetapi jarang mendengar. Dari sinilah cerita ini dimulai: dari seorang anak yang memilih api untuk berbicara.


Di Balik Amarah Seorang Santri

Aceh kembali terbakar. Bukan karena perang, melainkan karena hati seorang anak yang terlalu lama dipermainkan. Seorang santri di Pesantren Babul Maghfirah, Kuta Baro, nekat membakar asrama tempat ia tinggal. Alasannya sederhana: lelah dipanggil idiot, lelah ditertawakan, dan lelah dianggap tak berarti.

Api itu bukan sekadar kobaran bensin, melainkan teriakan dari anak yang tak pernah didengar. Ia membakar kamar agar barang-barang teman yang membully-nya ikut hangus. Sebuah bentuk keadilan versinya sendiri. Keliru, tapi nyata. Dan seperti biasa, kita baru bereaksi setelah semuanya terbakar.


Bullying: Luka yang Kita Anggap Biasa

“Cuma bercanda.” Itu alasan yang paling sering kita dengar setiap kali seseorang disakiti. Namun, candaan yang terus diulang bisa berubah menjadi pisau. Ejekan yang dianggap sepele bisa menjadi bom waktu.

Anak-anak tumbuh dengan luka yang kita tertawakan. Pesantren, sekolah, rumah, semuanya ikut salah. Tempat yang seharusnya melindungi justru membiarkan. Kita sibuk mendidik agar pintar, tapi lupa mengajarkan bagaimana mencintai.


Ledakan dari Dunia Maya

Jakarta punya versinya sendiri. Bukan api, melainkan ledakan. Bukan karena pembullyan, tapi karena paparan ekstrem yang tumbuh diam-diam di layar ponsel. FN, pelajar SMA Negeri 72 Jakarta, disebut sering mengakses konten kekerasan. Ia mengunggah gambar berdarah, simbol teror, dan tulisan tentang white supremacy.

Di senjata rakitannya tertulis nama-nama pelaku penembakan luar negeri seperti Luca Traini, Brenton Tarrant, dan Alexandre Bissonnette. Ia meniru gaya mereka, bahkan membuat kode sebelum aksinya sama seperti para pelaku di luar negeri yang ingin dikenal lewat simbol.

FN bukan bagian dari jaringan mana pun, tetapi pikirannya sudah tertanam keyakinan bahwa kekerasan bisa menjadi cara untuk dikenal. Menurut Solahudin, aksinya menyerupai teror, meski niatnya bersifat pribadi. Ini bukan soal ideologi, melainkan soal luka-luka yang tumbuh karena dunia nyata terlalu bising untuk mendengar, dan dunia maya terlalu cepat untuk menyesatkan.


Dua Tempat, Satu Luka

Aceh dan Jakarta adalah dua tempat yang berbeda, tetapi menyimpan luka yang sama. Satu dibakar oleh ejekan, satu diledakkan oleh algoritma. Anak-anak kehilangan ruang aman, keluarga sibuk, sekolah abai, dan masyarakat hanya menonton. Kita semua terlibat, bahkan ketika diam.

Anak yang diam bukan berarti baik-baik saja. Terkadang, diam adalah tanda bahaya. Dan ketika diam itu akhirnya meledak, barulah kita sadar: hal yang kita anggap sepele bisa berakhir fatal.


Kesalahan Sistem dan Tanggung Jawab Bersama

Kita sering bicara tentang generasi masa depan. Tapi nyatanya, kita tidak benar-benar menjaganya. Anak-anak yang terluka tumbuh dalam sunyi. Mereka mencari ruang untuk didengar, tetapi yang mereka temukan hanyalah dinding. Ketika suara mereka diabaikan terlalu lama, yang tersisa hanyalah amarah, ledakan, api, dan tragedi itu tidak muncul begitu saja.

Semuanya berawal dari diam yang dibiarkan. Dari ejekan yang dianggap biasa, dari anak yang dibiarkan menghadapi dunia dengan sendirian. Sistem yang katanya peduli, justru membiarkan mereka jatuh sendiri. Kita selalu datang setelah semuanya terjadi. Menyesal, menyalahkan, lalu lupa. Padahal yang dibutuhkan hanya satu: mendengar sebelum terlambat.


Jika perhatian datang terlambat, kita kehilangan lebih dari sekadar nyawa. Kita kehilangan harapan-harapan bahwa anak-anak yang terluka masih bisa tumbuh tanpa dendam, dan bahwa dunia ini masih aman bagi mereka untuk mengekspresikan keresahan tanpa harus melukai.

Indonesia, lihatlah tragedi ini. Ini bukan sekadar soal teror atau ideologi, melainkan tentang anak-anak yang terluka dan tak menemukan tempat untuk bersandar. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus kembali menjadi ruang pertama yang memberi kasih, nilai, dan makna hidup. Sebab ketika fungsi itu terabaikan, luka kecil bisa tumbuh menjadi kehancuran besar.


Editor: Farhan Perdana

Ilustrasi: Yudistira Alik

Sultan Zakaria Maulana
Sultan Zakaria Maulana