Semboyan yang Terlalu Indah untuk Menjadi Kenyataan

Di negara yang lekat akan keberagaman agama, suku, dan bahasa; memiliki semboyan “Bhineka Tunggal Ika” dan pada sila pertama Pancasila yang berbunyi “ketuhanan yang maha esa”.

Sungguh terdengar sangat hebat, bukan? Sebuah negara yang memiliki latar belakang suku dan agama yang berbeda-beda, tetapi tetap bersatu untuk menciptakan masyarakat yang tenteram dan saling menghormati. Namun pada kenyataanya, masih banyak kejadian yang bertentangan dengan semboyan dan sila pertama itu sendiri.


Pelarangan Pembangunan Rumah Ibadah

Hal yang paling sering terjadi adalah pelarangan pembangunan rumah ibadah atau peribadatan minoritas oleh masyarakat setempat. Dari data yang dihimpun oleh SETARA Institute dalam kurun waktu 2007-2022 menunjukkan ada sekitar 573 kasus terkait pelarangan ibadah dan pembangunan rumah ibadah, entah itu penolakan, intimidasi, perusakan, pembakaran, dan sebagainya. Bahkan sepanjang tahun 2024 terdapat 260 peristiwa.

Dari sini, sudah sedikit menggambarkan bahwa toleransi di negara ini masih tidak baik-baik saja. 

Di Sukabumi, anak-anak dan remaja dari Gereja di Tangerang Selatan yang sedang menjalankan retret di sebuah villa digrebek warga sekitar dan mereka menanyakan apakah si pemilik villa sudah memiliki “izin” untuk menjadikan villanya sebagai tempat ibadah.

Apakah sekarang umat yang ingin beribadah harus memiliki izin untuk menjalankan perintah kepercayaannya?

Tidak sampai situ saja, warga melakukan perusakan besar-besaran terhadap villa tersebut sampai pengambilan paksa simbol kepercayaan mereka yang di mana itu melukai batin dari umat kepercayaan tersebut, akibat dari penggerebekan itu pula anak-anak dan remaja peserta retret itu mengalami trauma.


Festival Kuliner Cap Gomeh di Solo

Festival kuliner ini digelar pada 12-16 Februari 2025 di Paragon Mall, Solo. Terjadi penolakan oleh ormas karena terdapat kuliner nonhalal pada festival tersebut.

Menurut salah satu anggota ormas, Endro Sudarso mengatakan “Yang termasuk kategori haram adalah zina, pernikahan sejenis minuman keras, makan babi, maupun narkoba. Yang haram diperintahkan untuk ditinggalkan. Untuk itu ketika yang haram kemudian difestivalkan, divulgarkan maka tidak menutup kemungkinan yang haram lainnya juga akan difestivalkan,” ungkapnya.

Padahal, hal ini bisa dilakukan dengan cara yang sederhana seperti tidak mendekati area atau festival yang memang dirasa tidak baik untuk mayoritas sehingga tidak mengganggu ketentraman bersama.

Public Relation Paragon Mall Solo, Veronica Lahji mengatakan bahwa lokasi kuliner halal dan nonhalal berada di tempat yang terpisah. Untuk kuliner halal berada di Atrium Paragon Mall di pintu utara sedangkan kuliner nonhalal berada di loby 2 parkir di pintu Selatan. 


Warung Makan Harus Tutup saat Bulan Puasa

Warung makan di bulan puasa biasanya diharuskan tutup dan jika memilih untuk buka, setidaknya warung makan itu diberi tirai agar tidak terlihat. Tetapi, meski sudah ditutup oleh tirai, masih ada beberapa kelompok yang suka menggerebek warung makan itu dan menyuruh sang pemilik tempat untuk menutup warungnya.

Penggrebekan warung makan ini, tidak membuat orang berhenti untuk makan sembunyi-sembunyi seperti pada tujuan dari hal ini. Karena orang-orang itu punya banyak akal untuk bisa makan secara sembunyi selama bulan puasa.

Penutupan warung makan ini juga secara tidak langsung menutup mata pencaharian si pemilik warung makan tersebut, bagaimana jika warung makan itu satu-satunya sumber pendapatan mereka untuk makan sehari-hari?

Jika memang ingin semua warung makan untuk tutup selama bulan puasa, lebih baik diberikan kompensasi selama mereka tidak berdagang untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari. Dengan begitu, si pemilik warung akan sukarela menutup warungnya selama bulan puasa.


Saat Berbeda Bukan Berarti Terpisah

Kita memang hidup di negara yang penuh warna—beda suku, keyakinan, cara ibadah. Namun, justru karena perbedaan itulah seharusnya kita bisa belajar buat saling mengerti, bukan saling curiga.

Toleransi bukan berarti harus sepakat dalam segala hal, tetapi cukup tahu kapan harus menghormati dan tidak memaksakan pandangan sendiri.

Kalau kita bisa mulai dari hal kecil, seperti membiarkan orang lain beribadah, makan, atau merayakan budaya mereka tanpa diganggu, itu sudah jadi langkah besar buat bikin Indonesia benar-benar seperti semboyannya: Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua.


Editor: Muhammad Rayfahd Haykal

Rifqi Muhamad
Rifqi Muhamad