Kalau ada yang tampak quirky atau menyenangkan di sebuah cerita, bisa jadi itu bukan cuma kebetulan, tapi bagian dari struktur naratif yang dibuat secara sadar. Sebuah machinery ideologis yang lebih dalam, yang mungkin sudah lama melekat di cara industri film memetakan peran perempuan.
Istilah Manic Pixie Dream Girl sendiri lahir dari kritik terhadap cara perempuan ditulis di sebuah film: dia itu sosok “young woman with eccentric personality quirks” yang biasanya hadir untuk tokoh utama laki-laki, untuk membantu mereka menemukan makna hidupnya lalu hilang tanpa ada perkembangan karakter tersendiri. Hal Ini adalah produk naratif dari sistem penulisan yang didominasi laki-laki, yang tidak pernah benar-benar tertarik pada kehidupan perempuan sebagai subjek yang bermakna, melainkan perempuan sebagai alat bagi perjalanan emosional laki-laki.

Ini bukan sekadar masalah penampilan atau “quirky hair colour”. Ini adalah cara film membuat karakter yang mendukung struktural narasi yang paling dihargai, yaitu narasi laki-laki. Dan karakter perempuan yang “bercerita sendiri” seringkali dipinggirkan atau bahkan dihapus.
Summer di (500) Days of Summer, mungkin di permukaan dia tampak quirky, independen, bahkan sering menolak hubungan tradisional. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, cerita di film ini sendiri dibangun dari sudut pandang Tom; Summer hanya dilihat sebagai fantasi laki-laki muda tentang cinta bukan sebagai individu dengan kehidupan batin dan tujuannya sendiri. Dengan kata lain, karakter seperti dia sering menjadi ruang bagi laki-laki untuk memproyeksikan fantasi mereka tentang kebebasan, dan bukan representasi kebebasan perempuan yang berakar pada pengalaman perempuan itu sendiri.
Clementine di Eternal Sunshine of the Spotless Mind juga sering disebut tokoh yang paling dekat dengan stigma ini—rambut warna gila, spontan, nyeleneh—karena narasi yang diceritakan soal hubungan mereka hanya melalui perspektif Joel dan konflik batinnya, kita masih cenderung melihat apa yang dia lakukan untuk Joel, dibanding dari apa yang ia lakukan untuk diri sendiri sebagai manusia yang kompleks.
Dalam kritik feminis terhadap trope ini, inti permasalahan bukan sekadar kepribadian yang quirky, tapi tentang perempuan yang realitas batinnya dikesampingkan hanya demi “transformasi laki-laki ”.
Narasi yang terus-menerus memberi peran perempuan sebagai katalisator bagi laki-laki menyiratkan satu hal yang lebih gelap: bahwa perempuan tidak layak menjadi pusat cerita mereka sendiri. Kritik feminis menjelaskan bahwa trope ini berakar pada misogini naratif tentang struktur di mana perempuan hanya punya “peran” jika itu meningkatkan narasi laki-laki.
Bukan kebetulan bahwa perempuan yang ditulis sebagai “whole, full human beings” jarang muncul di film slab mainstream. Studi yang dilakukan oleh Antoine Mazières, Telmo Menezes, dan Camille Roth, tentang representasi gender dalam film secara konsisten menunjukkan ketidaksetaraan dalam dialog, narasi, dan fokus karakter antara laki-laki dan perempuan. Ketika perempuan memang mendapatkan ruang lebih, itu biasanya hanya melalui lensa yang dikendalikan laki-laki, bukan cara perempuan melihat diri mereka sendiri atau satu sama lain.
Industri film besar, terutama Hollywood dan industri yang mengikuti pola Hollywood, telah lama mempromosikan struktur cerita yang berpihak pada pengalaman laki-laki. Perempuan dalam cerita ini sering menjadi objek yang muncul, bersinar, lalu hilang setelah memberikan “pelajaran hidup” kepada tokoh laki-laki utama. Pola semacam ini terus berulang, yang bahkan terus kita rayakan sebagai “romantic ideal”.
Karena itulah, framing narrative yang kita terima selama puluhan tahun, bahwa perempuan harus quirky, unpredictable, tanpa beban batin besar, dan eksentrik. Ini adalah produk sebuah sistem yang menempatkan narasi laki-laki sebagai pusat realitas, dan melihat perempuan hanya melalui fungsi naratif bagi laki-laki.
Yang paling mengejutkan bukan sekadar bahwa trope ini populer, tapi bahwa ia terus berulang meski ada kritik tajam dari dalam dan luar industri. Kalau kata Nathan Robin, “The Manic Pixie Dream Girl exists solely in the fevered imaginations of sensitive writer-directors to teach broodingly soulful young men to embrace life and its infinite mysteries and adventures”. Pada akhirnya, tokoh perempuan akan terus menjadi korban naratif dari industri yang hanya didominasi perspektif laki-laki.
Ketika karakter perempuan hanya ada untuk membantu laki-laki menjadi lebih “utuh”, itu memperkuat narasi bahwa dunia dibuat untuk laki-laki, dan perempuan hanyalah aksesoris di dalamnya yang tak punya drive sendiri, tak punya kompleksitas yang utuh, tak layak mendapatkan kursi di pusat cerita mereka sendiri.

Jika industri film menulis ulang narasi yang memaksa perempuan menjadi alat bagi pengalaman laki-laki… lalu bagaimana mungkin penonton—terutama perempuan muda yang tumbuh melihat diri mereka dalam film—percaya bahwa mereka layak menjadi protagonis hidup mereka sendiri?
Ini bukan soal quirky quirks dengan rambut aneh. Ini soal siapa yang punya hak untuk menjadi narator realitasnya sendiri, dan siapa yang masih dipaksa menjadi efek samping cerita orang lain.
Penulis: Nufasya Muzdalifa
Editor: Muhammad Rayfahd Haykal


