SKS Kini Menjadi Kebiasaan Kolektif, Meski Kita Tahu Itu Kekuatan Super Palsu

Tidak ada yang tahu kapan tepatnya “kekuatan super” ini muncul. Yang jelas, begitu kalender ujian ditempel di papan pengumuman, banyak remaja di Indonesia tiba-tiba berubah: mata lebih waspada, grup kelas lebih ramai, dan halaman buku pelajaran dibuka—setelah sekian lama dibiarkan berdebu. Inilah momen ketika SKS, Sistem Kebut Semalam, diaktifkan.

Fenomena SKS bukan cerita baru. Hampir semua remaja pernah mencobanya. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan ini semakin marak. Survei Pendidikan Remaja Indonesia di tahun 2024 mencatat bahwa lebih dari 6 dari 10 siswa belajar dengan SKS menjelang ujian.

Tapi di balik kelucuan dan drama khas remaja itu—kopi yang tiba-tiba jadi sahabat, highlight warna-warni yang muncul seperti karya seni, dan deretan chat “tolong jelasin bab 3 dong!”—ada sisi yang jarang dibahas: apa yang sebenarnya terjadi pada diri mereka?


SKS: Superpower atau Survival Mode?

Bagi remaja, SKS sering terasa seperti mode superhero. Dalam satu malam, mereka bisa membaca tiga bab, menghafal rumus, dan merangkum materi seolah waktu melambat. Namun, sebenarnya yang aktif bukan superpower, melainkan survival mode.

Menurut Kemenkes dalam Riset Kesehatan Belajar Remaja, ditemukan bahwa remaja yang begadang untuk belajar mengalami penurunan konsentrasi hingga 30% keesokan harinya. Tubuh bekerja keras, tetapi otak justru sulit memproses informasi secara mendalam. Inilah alasan mengapa banyak siswa merasa “sudah belajar lama, tapi tetap blanksaat ujian”.

Fenomena ini bukan sekadar soal disiplin belajar, tetapi juga soal tekanan. Banyak siswa merasa tugas datang bertubi-tubi, materi makin sulit, sementara waktu luang semakin sempit. SKS menjadi cara tercepat untuk tetap bertahan dalam tuntutan sekolah.


Sisi Lain yang Tidak Terlihat dari Luar

Jika melihat dari luar, SKS hanyalah belajar dadakan. Namun, dari dekat ada hal-hal yang lebih dalam yaitu kelelahan mental yang jarang diakui; rasa takut mengecewakan orang tua; tekanan sosial karena nilai semakin menjadi ukuran kemampuan; dan ketidakpastian tentang masa depan yang sering muncul di usia remaja.

Rasa cemas juga banyak dialami oleh siswa-siswa menjelang ujian datang dan SKS adalah cara cepat untuk meredakan rasa bersalah karena menunda belajar. Bukan solusi, hanya penunda rasa takut.

Remaja sebenarnya tidak malas. Mereka hanya kewalahan. Dan SKS menjadi cara untuk menunjukkan bahwa mereka masih berusaha.



Dampak yang Perlahan Terkumpul 

Kebiasaan ini sebenarnya tidak berhenti setelah ujian selesai. Dampaknya perlahan menumpuk:

  • Tidur yang terganggu membuat mood dan kesehatan menurun.
  • Pemahaman dangkal membuat belajar jangka panjang terasa lebih berat.
  • Kecenderungan menunda menjadi pola hidup yang sulit diubah.

Penelitian Pendidikan Nasional di tahun 2023 bahkan mencatat bahwa siswa yang sering SKS mengalami penurunan nilai rata-rata 8–12 poin dalam satu semester.


Mengubah Cara Kita Melihat SKS

Tulisan ini bukan tentang menyalahkan remaja. Justru sebaliknya: ini tentang memahami apa yang mereka alami. Banyak hal yang membuat mereka memilih SKS.

Mulai dari, sistem pembelajaran yang padat, ekspektasi yang tinggi, persaingan nilai, hingga gaya hidup digital yang membuat fokus mudah buyar.

Namun, di tengah semua itu, remaja tetap berusaha. Meski dengan cara yang belum ideal, mereka tetap ingin bertahan, lulus, dan membuat orang tua bangga.

Mungkin inilah saatnya melihat SKS bukan sebagai “kebiasaan buruk”, tetapi sebagai tanda bahwa remaja membutuhkan pola belajar yang lebih manusiawi—lebih tenang, lebih teratur, dan lebih ramah bagi kesehatan mental.



Penulis: Katherine Lovelytha Simatupang

Editor: Rayfahd Haykal

Redaksi Antonim
Redaksi Antonim